Sabtu, 07 Juni 2014

Jangan kau kepung aku dengan cemburu butamu

JANGAN KAU KEPUNG AKU DENGAN RASA CEMBURU BUTA

Rasa cemburu merupakan tabiat dan sifat kaum perempuan. Terkadang rasa cemburu ini menjadi suatu penyakit kejiwaan yg menimpa diri perempuan, yg membuat hatinya terbakar dan jiwanya berdarah. Hal itu menyebabkan terbaliknya kehidupan, kebahagiaan, serta rumah tangganya menjadi neraka yg tdk terperikan. Tanpa dapat mengetahui obat bagi penyakit cemburu ini atau memiliki neraca yg baik bagi rasa cemburu ini.

Hal ini terjadi ketika sang istri berlari mengejar rasa waswas dan prasangka, pikiran dan imajinasi, yg tidak ada ujung pangkal dan akhirnya. Biasanya rasa cemburu ini muncul dari hasil rekaan, waswas, dan imajinasi yg dihiasi dg kaitan antara kejadian, peristiwa, dan suatu kebetulan.

Ditambah dengan embusan setan didalam dadanya sehingga muncul api rasa takut terhadap suaminya. Meledak pula kawah rasa cemburu terhadap sang suami yg malang, yg larvanya mengalir karena dorongan bisikan setan dg segenap gambaran, bentuk, dan kekerasannya. Api rasa cemburu meloncat dari dalam dirinya. Seakan-akan rasa cemburunya adalah bara api yg muncul dari kebakaran minyak yg besar, yg menimpa salah satu tempat penyimpanan dan gudangnya yg penuh terisi. Tanpa mengetahui cara penanggulangannya atau cara mengevaluasi batasan dan reaksinya.

Kaum perempuan sesuai dg tabiatnya adalah manusia yg cepat terpancing dan berlaku sembrono. Kaum perempuan juga cepat merasa emosi dan berubah-ubah sikap hingga dia tdk mampu mengontrol diri, lidah, dan emosinya. Ditambah lagi dg kepahitan rasa cemburunya ketika perempuan mulai menapaki usia dewasa dan telah memiliki anak serta kereta pernikahannya telah menempuh jarak perjalanan yg cukup jauh. Dalam kondisi yg seperti ini, perempuan merasakan bahaya dan rasa takut terjadap dirinya, anaknya, dan rumah tangganya. Hal ini semakin menambah dalam, kuat, dan keras rasa cemburunya.

Beberapa org istri gagal dalam memadamkan api cemburu didalam dirinya barangkali akibat lemahnya kesadaran agama yg dimiliki. Barangkali juga karena kehilangan keluarga dan sanak kerabatnya atau orang yg dia jadikan tempat utk mengadu ketika dia tinggalkan oleh suami atau diceraikan oleh suaminya akibat perasaan sayangnya yg sangat tinggi dan rasa ketergantungannya yg besar terhadap suaminya.

Rasa cemburu sulit dipadamkan barangkali juga karena banyaknya imajinasi si istri terhadap suami secara terang-terangan, terbuka, ataupun secara tersembunyi, yg berlangsung secara sembunyi-sembunyi dan tertutup. Barangkali pula perempuan ini pernah bertunangan dg suaminya ini sebelum pernikahannya. Namun, kemudian pertunangannya dibatalkan atau dia ditalak karena suatu sebab atau karena hal yg lain sebelum dia nikahi atau digauli oleh sang suami.

Selain itu, bisa jadi barangkali karena perempuan yg dibakar oleh api cemburu yg membuat gerah kehidupan suami ini sangat memiliki keinginan yg kuat utk dpt menikahi laki-laki yg sekarang menjadi suaminya sebelum dia menikah. Bisa jadi perempuan yg pencemburu ini telah merebut atau menculik laki-laki yg telah menjadi suaminya dari salah seorang teman, kenalan, atau kerabatnya sehingga dia selalu merasa khawatir dg "hewan buruannya" yg terjatuh kedalam jaringannya, tanpa memerhatikan harapan dan impian yg telah terampas pada diri laki-laki ini dan hilang tanpa dapat di kembalikan lagi.

Sebab lainnya barangkali karena rasa cemburu ini lahir akibat berbagai cerita masa lalu suami yg di ceritakan kepada istrinya serta cerita tentang keinginan utk menikahi salah seorang kerabatnya. Namun, keinginan ini tdk dpt dilaksanakan karena suatu kendala yg menghalangi jalannya. Atau, cerita tentang keinginan beberapa org anak kerabat utk menikahkan dia dg salah seorang anak perempuannya. Namun, timbul satu kendala yg menghalangi rencana ini. Serta berbagai kemungkinan dan peristiwa lainnya yg mengakibatkan timbulnya rasa cemburu akibat imajinasi si istri yg membuat guncang rumah tangganya.

Apakah perempuan terus menjadi umpan rasa cemburu, takut, cemas, gelisah, perasaan tdk aman, dan tdk tenang karena rasa cemburu yg dia rasakan di dalam dirinya? Tentu saja tidak!

Yang paling baik bagi perempuan yg mudah-mudahan diberikan petunjuk oleh Allah ke jalan yg baik dan benar adalah mempersenjatai diri dg senjata keimanan. Memiliki keyakinan didalam diri bahwa hal yg menjadi miliknya pasti akan mendatanginya. Segala sesuatu dipastikan dg takdir Allah. Oleh sebab itu, tdk bermanfaat sikap kehati-hatian terhadap sesuatu yg telah ditakdirkan. Tidak akan berguna sikap kecemburuan bagi sesuatu yg telah ditakdirkan oleh Allah, yg telah Dia kehendaki, dan perkara yg berjalan sesuai dg perintah dan kehendak-Nya.

Seorang istri juga harus mempersenjatai diri dg senjata kesabaran yg dapat membuatnya sabar menghadapi api kecemburuan yg menyala dan berkobar di dalam dada dan hatinya. Dia kurangi intensitas serta frekuensi rasa cemburu dg kesabaran, berdasarkan sabda Rasulullah Saw.,

"Tidak ada rezeki yg lebih baik dan lebih luas bagi seorang hamba, selain rasa sabar." (HR. Malik, az-Zuhi)

Seorang istri juga selayaknya selalu memanjatkan do'a dan memohon kepada Allah dg hati yg ikhlas agar Allah menghapuskan rasa cemburu, takut, cemas, waswas, dan prasangka terhadap suami yg ada didalam dirinya.

Wahai istriku, berdo'alah dan memohonlah kepada Tuhanmu agar ducabut api cemburu beserta racunnya yg ada didalam hatimu. Berdo'alah juga agar kau dianugerahi ketenteraman, keridhaan, ketenangan, dan kesabaran. Jangan sampai kau berikan kesempatan bagi rasa cemburu untuk masuk kedalam hati dan jiwamu agar rasa cemburu tdk membuat keruh kehidupanmu yg jernih, tidak membakar hati dan dadamu, juga tidak menceraiberaikan akal dan pikiranmu. Kehidupan lebih ramah dari apa yg kau bayangkan dan pertempurannya lebih besar dari yg kau perkirakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar